PA UNAAHA MENANG LOMBA NASI TUMPENG PADA HUT IKAHI SULTRA KE 61 TAHUN 2014
DI PUBLIKASI YUDHI WIJAYA DALAM BERITA 10/04/14 639x
Memahami Arti Simbolis Nasi Tumpeng
Dalam rangka Hari Ulang Tahun Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) ke 61, Pengurus Daerah IKAHI Sultra mengadakan lomba nasi tumpeng bertempat di Gedung Pengadilan Tinggi Sultra Kendari Jl. D.I. Panjaitan Nomor 165 Kendari dengan Tema dalam arisan HUT IKAHI “PENINGKATAN PELAYANAN YANG BERKEADILAN KEPADA MASYARAKAT MELALUI PROFESIONALITAS DAN INTEGRITAS HAKIM.”
Teknis perlombaan nasi tumpeng yang terbuat dari nasi kuning dipersiapkan oleh peserta dari cabang IKAHI masing-masing. Setibanya di tempat lomba nasi tumpeng yang telah dimasak selanjutnya diramu dengan ditambahkan berbagai macam hiasan agar lebih cantik terlihat. Setelah siap, tumpeng-tumpeng itu diletakkan di atas meja dan siap untuk dinilai.
Pemenang Lomba nasi tumpeng adalah sebagai berikut Juara I PA. Andoolo Juara II PTA Kendari, Juara III PA Pasarwajo dan harapan I PA Unaaha.

Dibalik keindahan tampilan dan kelezatan komponen-komponen yang mentertainya, tumpeng juga memiliki filosifis sendiri. Nasi dengan bentuk piramida menyerupai gunung menjadi simbol dengan banyak makna, terutama makna spiritual. Dalam tradisi masyarakat Indonesia khususnya tradisi dan kepercayaan Jawa, sering diidentikkan sebagai tempat yang maha tinggi, tempat penguasa alam bertahta, dan tempat kemuliaan Allah.
Kepercayaa ini Sudah sejak lama muncul, misalnya; gunung Sinai, gunung Tabor, Pusuk Buhit, gunung Merapi, dan sebagainya. Asal-muasal bentuk tumpeng ini ada dalam mitologi Hindu dalam Epos (cerita) Mahabarata. Meski kini mayoritas orang Jawa adalah muslim atau islam, namun masih banyak tradisi masyarakat yang berpijak pada akar-akar agama Hindu, sebab Hindu lebih dulu masuk ke wilyah Jawa, baru agama-agama lain kemudian.
Dalam refleksi selanjutnya, bagi orang Jawa, gunung merupakan tempat yang sakral karena diyakini memiliki kaitan yang erat dengan langit dan surga. Bentuk tumpeng yang seperti gunung dalam tradisi Jawa memiliki makna mau menempatkan Allah pada posisi puncak, tertinggi, yang menguasai alam dan manusia. Bentuk ini juga mau menggambarkan bahwa Allah itu awal dan akhir, orang Jawa biasa menyebut-Nya dengan Sang Sangkan Paraning Dumadi artinya bahwa Allah adalah asal segala ciptaan dan tujuan akhir dari segala ciptaan. Tumpeng yang digunakan sebagai simbolisai dari sifat alam dan manusia yang berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Bentuk tumpeng juga seperti tangan terkatup, sama seperti saat seseorang menyembah. Hal ini juga mau menggambarkan bahwa Allah patut disembah dan dimuliakan. Bentuk menggunung nasi tumpeng juga dipercaya mengandung harapan agar hidup kita semakin naik dan beroleh kesejahteraan yang tinggi.
Dalam tradisi selametan orang Jawa, puncak acara adalah pemotongan bagian atas dari nasi tumpeng. Pemotongan ini biasanya dilakukan oleh orang yang paling dituakan atau dihormati. Hal ini mau mengatakan bahwa masyarakat Jawa masih memegang teguh nilai-nilai kekeluargaan dan memandang orang tua sebagai figur yang sangat dihormati. Sesanti (pepatah) Jawa mengatakan “Mikul dhuwur mendhem jero”. Mikul dhuwur artinya memikul setingi-tingginya dan mendhem jero artinya menanan dalam-dalam. Arti pepatah ini adalah menghormati orang tua setinggi-tingginya dan menghargai sebaik-baiknya atau menghargai sedalam-dalamnya terhadap orang lain.
Setelah itu, nasi tumpeng disantap bersama-sama. Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai kebersamaan dan kerukunan. Ada sesanti (pepatah) yang tidak asing bagi kita yaitu: mangan ora mangan waton kumpul (makan tidak makan yang penting kumpul). Hal ini tidak berarti meski serba kekurangan yang penting tetap berkumpul dengan sanak saudara. Pengertian sesanti tersebut yang seharusnya adalah mengutamakan semangat kebersamaan dalam rumah tangga, perlindungan orang tua terhadap anak-anaknya, dan kecintaan kepada keluarga. Di mana pun orang berada, meski harus merantau, haruslah tetap mengingat kepada keluarganya dan menjaga tali silaturahmi dengan sanak saudaranya.
Makna Dibalik Warna Tumpeng
Selain dari bentuk, kita juga bisa melihat makna tumpeng dibalik warna nasi tumpeng. Ada dua warna dominan nasi tumpeng yaitu putih dan kuning. Bila kita kembali pada pengaruh ajaran Hindu yang masih sangat kental di Jawa, warna putih diasosiasikan dengan Indra, Dewa Matahari. Matahari adalah sumber kehidupan yang cahayanya berwarna putih. Selain itu warna putih di banyak agama melambangkan kesucian. Warna kuning seperti emas melambangkan rezeki, kelimpahan, kemakmuran.
Makna Simbolik Kompnen dalam Tumpeng
Sayuran
Sayuran merupakan jenis menu yang umum dipilih yang dapat mewakili tumbuhan darat. Jenis sayurnya tidak dipilih begitu saja karena tiap sayur juga mengandung perlambang tertentu. Sayuran yang umum ada adalah:
a. Urap
Urap merupakan kelapa parut yang dibumbui untuk campuran sayur-sayuran yang direbus. Kata urap senada dengan urip atau hidup, artinya mampu menghidupi atau mampu menafkahi keluarga. Urip berarti juga sumber kehidupan. Sayuran merupakan pralambang dari alam semesta yang memberi kehidupan bagi manusia.
b. Kangkung
Sayur ini bisa tumbuh di air dan di darat, begitu juga yang diharapkan pada manusia semoga sanggup hidup di mana saja dan dalam kondisi apa pun, teguh, ulet dan pantang menyerah. Kangkung sama dengan jinangkung (terwujud/tercapai) yang berarti mengandung harapan agar apa yang menjadi cira-cita bisa tercapai.
c. Bayam
Bayam mempunyai warna hijau muda yang menyejukkan dan bentuk daunnya sederhana tidak banyak lekukan. Sayur ini melambangkan kehidupan yang ayem tenterem (aman dan damai), tidak banyak konflik seperti sederhananya bentuk daun dan sejuknya warna hijau pada sayur bayam.
d. Kacang Panjang
Kacang panjang harus hadir utuh, tanpa dipotong. Maksudnya agar manusia hendaknya selalu berpikir panjang sebelum bertindak. Selain itu kacang panjang juga melambangkan umur panjang.
Lauk-Pauk
a. Ikan Lele
Ikan Lele: dahulu lauk ikan yang digunakan adalah ikan lele. Ikan lele merupakan jenis ikan yang tahan hidup di air yang tidak mengalir. Ikan ini juga senantiasa hidup di dasar sungai. Makna yang terkandung dalam ikan lele adalah symbol ketabahan, keuletan dalam hidup, kerendahan hati, dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling bawah sekalipun, juga hendaknya tidak sungkan meniti karier dari bawah.
b. Ikan Teri
Jenis ikan ini hidup di laut dan selalu hidup bergerombol. Ikan teri dimaksudkan sebagai simbol kebersamaan dan simbol kerukuan. Biasanya dalam sajian nasi tumpung ikan ini digoreng dengan tepung, dibuat seperti rempeyek. Ikan bergeombol dan tidak terpisah-pisah.
c. Telur
Telur direbus dan biasanya disajikan utuh bersama kulitnya, tidak dipotong – sehingga, sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu. Hal tersebut mu melambangkan bahwa semua tindakan kita harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan.Piwulang jawa mengajarkan “Tata, Titi, Titis dan Tatas”, yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan,dan diselesaikan dengan tuntas. Telur juga melambangkan manusia diciptakan Tuhan dengan derajat yang sama, yang membedakan hanyalah sifat dan tingkah lakunya. (admin Pauna).
Daftar Populer
Terbaru
Surat Dinas Pengisian e-survei [m0203-2024] 27 Sep 2024
Surat Dinas Surat keterangan sakit [m0079-2023] 08 Feb 2023
